SAI100FM.ID – Bagian Roket Falcon 9 SpaceX Tabrak Bulan menjadi salah satu peristiwa antariksa yang menarik perhatian para ilmuwan dan pengamat luar angkasa. Sebuah tahap atas (upper stage) roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menghantam permukaan Bulan pada Agustus 2026 setelah menghabiskan lebih dari satu tahun mengorbit Bumi. Meski terdengar dramatis, para ahli memastikan bahwa peristiwa ini tidak akan menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun Bulan.
Bagian Roket Falcon 9 SpaceX Tabrak Bulan Diperkirakan Terjadi pada Agustus 2026
Berdasarkan hasil perhitungan Project Pluto yang dikutip Fox Weather, tahap atas roket Falcon 9 diprediksi akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026 sekitar pukul 13.35 WIB.
Objek tersebut diperkirakan melaju dengan kecepatan sekitar 5.400 mil per jam atau setara dengan 8.700 kilometer per jam saat menghantam permukaan Bulan.
Lokasi tumbukan diprediksi berada di sekitar Einstein Crater, salah satu kawasan di sisi Bulan yang memiliki permukaan sangat kasar dan dipenuhi kawah hasil tabrakan asteroid maupun meteorit selama miliaran tahun.
Meski kecepatan tumbukannya sangat tinggi, lokasi tersebut memang telah menjadi wilayah yang terbentuk akibat berbagai benturan alami sejak awal terbentuknya tata surya.
Mengenal Tahap Atas Roket Falcon 9
Objek yang diperkirakan akan menghantam Bulan bukanlah seluruh roket Falcon 9, melainkan bagian upper stage atau tahap atas roket.
Komponen ini memiliki ukuran yang cukup besar, bahkan diperkirakan setara dengan gedung lima lantai. Dalam setiap peluncuran Falcon 9, tahap atas berperan membawa satelit, kapsul, atau muatan lain menuju orbit yang telah ditentukan setelah tahap pertama selesai menjalankan tugasnya.
Sistem bertingkat seperti ini memang menjadi salah satu ciri khas roket modern. Setelah bahan bakar pada tahap pertama habis, bagian tersebut akan dilepaskan sehingga roket menjadi lebih ringan dan efisien untuk melanjutkan perjalanan ke luar angkasa.
Falcon 9 sendiri dikenal sebagai salah satu roket paling sukses yang pernah dikembangkan SpaceX karena memiliki kemampuan menggunakan kembali tahap pertama roket untuk beberapa kali peluncuran.
Mengapa Bagian Roket Bisa Menuju Bulan?
Dalam sebagian besar misi luar angkasa, tahap atas roket biasanya tetap berada di orbit Bumi selama beberapa waktu sebelum akhirnya masuk kembali ke atmosfer dan terbakar akibat gesekan udara.
Pada beberapa misi lain, bagian roket sengaja diarahkan menuju orbit yang mengelilingi Matahari agar tidak mengganggu lalu lintas satelit di sekitar Bumi.
Namun, tahap atas Falcon 9 yang diluncurkan pada 15 Januari 2025 menempuh jalur yang berbeda. Setelah bergerak dalam orbit elips selama lebih dari satu tahun, lintasannya secara perlahan berubah akibat pengaruh gravitasi Bumi dan Bulan.
Perubahan orbit tersebut akhirnya membuat objek bergerak menuju Bulan dan diperkirakan akan berakhir dengan menghantam permukaan satelit alami Bumi tersebut.
Fenomena seperti ini memang jarang terjadi, tetapi bukan sesuatu yang mustahil dalam dunia astronomi dan eksplorasi antariksa.
Tabrakan Buatan Manusia dengan Bulan Pernah Terjadi Sebelumnya
Meski terdengar mengejutkan, tabrakan benda buatan manusia dengan Bulan sebenarnya bukan pertama kali terjadi.
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah secara sengaja menabrakkan tahap atas roket dari misi Apollo 13 dan Apollo 17 ke permukaan Bulan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari eksperimen ilmiah untuk mempelajari struktur bagian dalam Bulan. Getaran yang dihasilkan dari tumbukan direkam oleh seismometer yang telah dipasang sebelumnya di permukaan Bulan.
Data tersebut membantu para ilmuwan memahami karakteristik lapisan dalam Bulan, termasuk struktur kerak, mantel, hingga inti satelit alami Bumi itu.
Karena itu, tumbukan benda buatan manusia ke Bulan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa.
Tidak Menimbulkan Ancaman bagi Bumi
Para ahli menegaskan bahwa tumbukan tahap atas Falcon 9 tidak akan memberikan dampak berbahaya bagi kehidupan di Bumi.
Ukuran Bulan yang sangat besar membuat benturan tersebut hanya menghasilkan kawah kecil dibandingkan luas permukaannya yang dipenuhi jutaan kawah akibat hantaman asteroid selama miliaran tahun.
Peristiwa ini juga tidak akan mengubah orbit Bulan ataupun memengaruhi hubungan gravitasi antara Bumi dan satelit alaminya.
Dampaknya diperkirakan hanya berupa tambahan puing logam di sekitar lokasi tumbukan, jumlah yang relatif sangat kecil dibandingkan material lain yang telah berada di permukaan Bulan.
Menjadi Pengingat Penting tentang Sampah Antariksa
Prediksi tumbukan Falcon 9 juga kembali mengingatkan dunia mengenai meningkatnya jumlah objek buatan manusia di luar angkasa.
Seiring berkembangnya industri antariksa, jumlah peluncuran roket setiap tahun terus meningkat. Selain membawa satelit komunikasi, misi ilmiah, hingga eksplorasi planet, setiap peluncuran juga menghasilkan komponen roket yang harus dikelola dengan baik.
Para ilmuwan kini terus memantau ribuan objek yang masih mengorbit Bumi maupun bergerak di ruang angkasa untuk menghindari risiko tabrakan dengan satelit aktif atau misi eksplorasi lainnya.
Pemantauan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan aktivitas luar angkasa di masa depan. Dengan semakin banyaknya negara dan perusahaan swasta yang terlibat dalam eksplorasi antariksa, pengelolaan sampah antariksa menjadi tantangan besar yang harus diatasi bersama.
Peristiwa tumbukan tahap atas Falcon 9 ke Bulan memang tidak membahayakan, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap misi luar angkasa meninggalkan jejak yang perlu dipantau demi menjaga keamanan eksplorasi antariksa pada masa mendatang.

