Kita tidak mungkin lupa dengan fenomena sosial beberapa tahun ke belakang ketika anak-anak muda menggandrungi musik-musik dalam negeri yang dibawakan dengan iringan gitar akustik, yang sering disebut sebagai musik folk. Fenomena ini muncul seiring merangkaknya popularitas nama-nama seperti Adhitia Sofyan, Payung Teduh, Fourtwnty, Jason Ranti, Endah N Rhesa, dan sebagainya.
Munculnya nama-nama tersebut dan kegemaran anak muda terhadap musik folk sebenarnya bukan fenomena yang baru terjadi pertama kali. Seorang kritikus musik, Denny Sakrie, dalam bukunya yang berjudul 100 Tahun Musik Indonesia, mencatat kalau awal \’70-an menjadi era dimana musik folk pertama kali menjamur, terlebih di tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Di era itu, festival-festival musik folk kian menjamur di ketiga kota tersebut. Lahir pula pemain-pemain folk yang kemudian menjadi populer di industri musik Indonesia era \’70-an dan digandrungi anak-anak muda pada saat itu, sebut saja Noor Bersaudara, Bimbo, atau Remy Sylado.
Di hari ini, banyak yang menganggap kalau musik folk telah bergeser maknanya. Musik folk yang dulunya dianggap sebagai musik rakyat kini sering dicap sebagai \’musik senja\’. Musik folk atau musik senja kini kerap dipandang sebagai musik akustik minimalis berlirik puitis, yang cocok dinikmati di kala senja sambil ngopi.
Pergeseran makna ini pun jadi menimbulkan perdebatan soal musik yang seperti apa yang sah disebut sebagai musik folk. Apakah musik dengan iringan gitar akustik, komposisi minimalis, dan lirik puitis? Atau, jika musik folk memang musik rakyat, apakah koplo bisa dikategorikan sebagai musik folk?
Jawabannya pun masih diperdebatkan hingga hari ini. Tapi yang jelas, menjamurnya musik folk beberapa tahun ke belakang, hingga munculnya cap musik senja, dan segala hal yang menyertainya, bisa dibilang merupakan salah satu bentuk respons para penikmat musik terhadap fenomena ini.
Meski sempat menjadi sebuah fenomena sosial, kini, geliat musik folk dengan segala hal yang menyertainya rasanya tidak seriuh beberapa tahun lalu. Pemain-pemain folk kini banyak yang mencoba bereksplorasi, mencoba hal-hal baru yang di luar dari akar mereka. Hal ini sebenarnya tidak salah, sebab keinginan untuk bereksplorasi merupakan hal wajar yang muncul dalam benak setiap seniman, cepat atau lambat.
Medcom pun berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan salah satu solois folk untuk membahas mengenai musik folk hari ini, ia adalah Oscar Lolang. Oscar Lolang merupakan musisi asal Jakarta yang memulai kiprahnya di industri musik pada 2016 dengan merilis \”Eastern Man\”, sebuah lagu yang menyinggung soal Papua dan aparat.
Pada 2017, Oscar merilis album penuh pertamanya yang bertajuk Drowning in a Shallow Water. Album itu juga menyertakan lagu \”Eastern Man\” di dalamnya. Lagu-lagu lainnya di album itu pun turut menyuarakan isu-isu sosial, seperti soal polemik Candi Bojongmenje yang ia tuangkan dalam \”Unwanted Temple\”.
Terbaru, tepatnya pada November 2022, Oscar merilis sebuah album mini atau extended play (EP) yang ia beri nama Jalan Sendiri. Jika di karya-karya sebelumnya Oscar banyak menyuarakan isu-isu sosial, di EP ini ia justru lebih banyak mengutarakan perasaannya sendiri.
Balik lagi soal musik folk hari ini yang tidak seriuh beberapa tahun ke belakang, Oscar pun merasakan hal tersebut. Ia melihat kalau kini banyak musisi-musisi folk yang mulai meninggalkan akarnya. Bahkan, Oscar sendiri pun berencana meninggalkan musik folk dalam beberapa tahun ke depan.
\”Sebenarnya aku bisa bilang musik folk atau musik yang acoustic based ya, itu kayaknya mulai banyak ditinggalkan sama pemainnya. Bahkan aku pun sempat hampir meninggalkan juga. Mungkin di dua-tiga album ke depan juga mungkin aku akan meninggalkan itu,\” kata Oscar Lolang kepada Medcom, baru-baru ini.
Oscar pun menyinggung soal sisi eksplorasi seorang musisi yang menurutnya akan lebih leluasa jika bermain di jenis musik yang lain.
\”Karena mungkin dengan zaman yang serba cepat itu tidak mendukung dari sisi eksplorasinya, dari segi eksploratifnya tuh enggak seeksploratif instrumen lain, misalkan kayak instrumen digital, dan lain-lain,\” katanya.
Meski mulai banyak ditinggalkan oleh para pemainnya, di sisi lain, Oscar justru mengatakan kalau sebenarnya musik folk di hari ini lebih kaya, tidak hanya sekadar musik akustik berlirik puitis yang orang bilang sebagai musik senja.
Oscar mencontohkan kalau beberapa waktu lalu, selama ia menjalani tur ke berbagai kota untuk mempromosikan EP Jalan Sendiri, ia banyak bertemu dengan musisi-musisi folk dengan beragam karakter.
\”Tapi ku lihat juga, musik folk sekarang itu sebenarnya sangat beragam, meskipun orang banyak bilang itu kan musik senja, mungkin mereka kenalnya yang senjanya, tapi sebenarnya, setiap musisi yang memainkan musik dengan influence genre folk, itu tuh karakternya beda-beda.\”
\”Menurut aku, meskipun sekarang banyak penyanyi folk mulai meninggalkan keakustikan itu, tapi sebenarnya musik folk itu semakin kaya sekarang, kalau menurut aku ya, karena cukup tergambar juga di setiap kota tuh karakternya beda-beda,\” ucapnya.
Oscar juga mengungkapkan kalau ia pun sempat hampir meninggalkan musik folk beberapa tahun lalu. Oscar menuturkan kalau sebenarnya ia telah merampungkan sebuah album yang warna musiknya bukan folk lagi, tapi album tersebut ditunda perilisannya, salah satunya karena pandemi.
Akhirnya, Oscar pun memilih untuk menidurkan sejenak rencananya itu dan memutuskan untuk tetap merilis karya dengan warna folk. Dari keputusan itu, lahirlah EP Jalan Sendiri.
\”Kenapa aku kemudian atau salah satu alasan aku memilih untuk bermain akustik lagi dan menidurkan rencanaku sejenak untuk bermain full band, karena aku rasa masih ada eksplorasi di akustik yang belum aku temukan, yang aku masih gatal,\” tuturnya.
Oscar pun memberi kesimpulan bahwa meskipun tren musik folk mengalami pasang-surut, ia yakin kalau musik folk akan tetap terus tumbuh dan tetap akan selalu ada pendengarnya.
\”Folk itu meskipun dia pasang-surut trennya, tapi dia tetap akan selalu ada, karena dia musik yang sederhana. Akan selalu ada pendengarnya, akan selalu ada pemainnya. Jadi, meskipun ada pemain folk yang sudah mulai meninggalkan dan bermain dengan musik yang lebih pop, musik yang lebih rock, yang lebih apapun itu, akan tetap tumbuh-tumbuh juga folk-folk yang lebih beragam,\” pungkasnya.
Dilansir dari Medcom.id