Tuesday, August 4, 2026
  • Login
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
No Result
View All Result
Home Musik

Brandon Coleman Ciptakan Musik Perjalanan Luar Angkasa di Album Interstellar Black Space

Nana HasanbyNana Hasan
May 24, 2022
in Musik
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Musisi, keyboardist, vokalis, komposer, produser, dan penulis lagu Los Angeles, Brandon Coleman, merilis album terbarunya Interstellar Black Space hari Jumat lalu. Tak diragukan lagi bahwa Brandon merupakan bagian dari keluarga label musik ternama Brainfeeder. Selain telah berkolaborasi dengan pendiri label tersebut, Flying Lotus, serta musisi pemenang GRAMMY® Award, Thundercat, Brandon juga merupakan bagian dari band luar biasa Kamasi Washington. Dikenal dengan kelihaiannya memainkan keyboard dan keytar di atas panggung, Kamasi sering memperkenalkan Brandon di konsernya sebagai “Professor Boogie”.

Album Interstellar Black Space mewakili babak baru di dinasti funk Brandon yang mengambil inspirasi dari semangat kebebasan dan eksperimentasi musisi-musisi legendaris seperti George Clinton/Parliament Funkadelic, Herbie Hancock, Chick Corea, dan Weather Report. Brandon menyebut album ini sebagai “pertemuan surgawi untuk gendang telinga Anda” dan merupakan manifestasi dari keinginannya membuat musik untuk para astronot selama mereka menjalankan misi-misi luar angkasa mereka.

Terinspirasi oleh “Space Oddity” dari David Bowie dari katalog musik George Duke yang kaya, menurut Brandon, “Album ini adalah refleksi dari waktu, ruang, dan energi celestial dari sudut pandangku,” ujar Brandon. “Aku sangat suka film-film yang bertempat di luar angkasa seperti Interstellar dan The Martian — aku kemudian berpikir ‘jika aku bepergian di luar angkasa, apa yang ingin aku dengarkan?’” Jawaban dari pertanyaan tersebut ada dalam lagu “Blast Off” — single utama album ini yang mengandung esensi musik funk selama 1 menit dan 48 detik — yang membawa semua pendengarnya ke atmosfer yang penuh kebahagiaan dan berbagai perpaduan musik luar biasa yang mengingatkan kita akan era “Street Songs” dari Rick James, serta Cameo dan Dazz Band di masa keemasan mereka. “Aku ingin menulis sesuatu yang ingin aku dengarkan selagi aku bepergian dari satu planet ke planet lainnya sambil mencari suatu logam langka yang kita harus bawa kembali ke bumi,” ujar Brandon sambil tertawa.

ADVERTISEMENT

Dengan semangat masa depan, namun tetap dengan penuh rasa hormat atas garis keturunannya dan asal-usul musik kulit hitam di Amerika Serikat, Brandon mereferensi beberapa kalimat dari autobiografi James Brown yang menjelaskan tentang peran musik di perkebunan di tengah masa perbudakan. “Ia menulis tentang bagaimana orang-orang yang diperbudak dilarang untuk bermain alat musik. Aku rasa pemilik-pemilik perkebunan dulu tahu bahwa musik adalah salah satu cara berkomunikasi.

Orang-orang yang diperbudak itu kemudian hanya diberikan satu hari dalam setahun untuk beristirahat — dan di satu hari itu mereka diperbolehkan untuk bermain musik dan melakukan apa saja yang mereka inginkan. Mereka akan membuat drum di pagi hari dan memainkannya dari matahari terbit hingga terbenam sampai malam hari. Di berbagai perkebunan ini, dari jauh yang bisa didengar adalah permainan drum mereka dan mereka semua terhubung dalam ‘satu kesatuan’. Musik modern banyak yang terinspirasi dari ‘satu kesatuan’ tersebut. Hal itu menjadi sesuatu yang lekat dengan kultur kami yang menjadi basis dari funk: James Brown, Larry Graham, Sly Stone, Bootsy Collins.  Lagu \’On the One’ menjadi penghormatanku atas garis keturunanku. Aku ingin membuat sesuatu yang menggugah.”

Lagu penutup album ini adalah “Mutha Afrika”. “Afrika adalah ibu dari segala ritme dan saat aku mendengar lagu ini, aku ingat akan sorak sorai penuh kebahagiaan. Aku ingat akan tari-tarian. Aku ingat akan leluhur-leluhurku. Aku ingat akan garis keturunanku. Aku ingat akan otodidakisme,” ujar Brandon. “Tidak ada yang mengajarkan kita cara memainkan drum-drum ini, tidak ada yang mengajarkan kita cara bermain musik. Kita melakukannya karena itu merupakan bagian dari siapa diri kita sebenarnya.”

Brandon menunjukkan musikalitas luar biasanya di album \’Interstellar Black Space\’ — ia menunjukkan bahwa ia merupakan ahli lagu balada dan juga konduktor funk berenergi tinggi yang mendorong album ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Berbicara tentang single ke-2 album ini, \”Be With Me\”, Brandon sekali lagi berbicara tentang pelajaran yang ia ambil dari sejarah musik kulit hitam yang ia pelajari. “Ada sebuah kultur di musik yang aku dengarkan selama aku tumbuh dewasa yang selalu aku cintai dan ada spiritualitas yang berbicara kepada jiwaku: lirik-lirik The Delfonics, Four Tops, Manhattans, grup-grup yang memotivasiku untuk menulis sebuah lagu serupa. Aku menulis lagu ini dalam 30 menit. Kami merekamnya dalam satu take. Sungguh musik soul yang tercipta lewat synthesizer!”

Menyusul kesuksesan album sebelumnya  \’Resistance\’ (2018), Brandon ingin lebih menampilkan sound bernuansa live yang tidak terlalu mengandalkan produksi musik yang berlebih di album ‘Interstellar Black Space’. Ia pun mengajak teman-teman sesama musisinya seperti  Kamasi Washington, Patrice Quinn, Ryan Porter, Samir Elmehdaoui, Stanley Rudolph, Sean Sonderegger, dan Yvette Holzworth, selain pemenang GRAMMY® Award, Keyon Harrold (trompet), Ben Williams (bass), dan drummer Marcus Gilmore (Taylor McFerrin / Chick Corea) yang Brandon ajak untuk berkolaborasi di lagu  \”We Change (Part II)\” dan \”Astral Walk\” — dua lagu yang mewakili bagian paling jazz dari album ini. “Musisi-musisi ini adalah orang-orang yang selalu aku kagumi dari dulu,” ujar Brandon. “Mereka juga mewakili sebuah sound dan kultur yang aku ingin tampilkan di proyek ini.”

Brandon tumbuh di South Central Los Angeles bersama kakaknya yang memperkenalkannya kepada musik Miles Davis sejak kecil. “Ada masa-masa di mana anak-anak di sekolahku menyanyikan lagu-lagu populer dan aku tidak tahu lagu-lagu itu. Aku malah mendengarkan Kenny Kirkland dan Chick Corea dan mereka berpikir bahwa aku berbeda.” ujar Brandon. Brandon mulai belajar memainkan piano di umur 16 tahun.

Pada umur 17 ia mulai tur bersama Brian McKnight dan ia telah bekerja sama dengan musisi-musisi ternama dunia seperti Babyface, Roy Hargrove dan Stanley Clarke hingga Alicia Keys dan Childish Gambino. Brandon merupakan salah satu kontributor penting di album-album Kamasi Washington, Thundercat, dan Flying Lotus. Ia juga menjadi musisi pembuka konser Flying Lotus di tur Amerika Utara mereka pada 2019.

Dilansir dari: medcom.id

Tags: Brandon ColemankeyboardistkomposermusisiProduservokalis
Previous Post

Kaleb J Berkolaborasi dengan Musisi Peraih Grammy sekaligus Keyboardist Maroon 5 PJ Morton

Next Post

GBS Rilis Single Jingga, Respons dari Fenomena Anak Senja

Next Post

GBS Rilis Single Jingga, Respons dari Fenomena Anak Senja

Mirip Mendiang Suami, Istri Gepeng \'Srimulat\' Terharu Lihat Bio One

Mirip Mendiang Suami, Istri Gepeng \'Srimulat\' Terharu Lihat Bio One

David Harbour Sudah Lama Tahu Akhir Stranger Things

Westlife akan Konser di Jakarta, Ini Harga Tiketnya!

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • NEWS
  • Privacy Policy
  • Profil
  • Radio SAI
  • rss
  • Stream

© 2023 - SAI100FM.ID

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI

© 2023 - SAI100FM.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
richard mille replica 11 watch rm51 01 tornado with full stone4617 replica watches fake vacheron constantin patrimony moon phase retrograde date 42 5 mm pink gold datejust green jubilee replica3097 patek philippe 5226g calatrava 18k white gold new model 2022 06a00a0e rolex gmt master ii haribo gold replica7951 rolex datejust 18k gold wrapped replica watch mother of pearl dial6590 replica richard mille rm053 pvd fake tourbillon skeleton dial black rubber strap a28247123 iwc aquatimer black dial stainless steel 42mm mens watch iw329002 rolex submariner date 116619lb replica 11 watch blue7992 replica panerai pam049 xf white dial white leather strap a77503282 replica omega planet ocean professional blue liquidmetal bezel 45mm omf rubber strap a85009175 hublot big bang unico red magic replica watch3801 rolex day date 228235 replica watch dial7486 oyster perpetual 36 m126000 0006 578b8f21 blackmagic fusion replica8057 rolex daytona blaken with black dlc coating modified rainbow diamond black replica omega globemaster master dlc rg pointer white dial leather strap a89001966 replica watches panerai luminor quaranta bitempo 40mm pam01365 replica watches panerai submersible quarantaquattro bianco 44mm pam01226 rolex daytona 116509ln arabic numeral replica watch3038 margiela replica cologne
patek philippe super clone
swiss replica watches
rolex replica for sale
under the stars replica
replica men's cologne
under the stars replica
chanel replica
luxury replica watch
margiela replica shoes
kate middleton ring replica
replica perfume set
lv wallet replica
perfume smell alikes
van cleef necklace replica