Tuesday, May 12, 2026
  • Login
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
No Result
View All Result
Home Hiburan

Album Lagu Baru Dari Masa Lalu Dirilis, Libatkan Andien sampai Mondo Gascaro

Nana HasanbyNana Hasan
June 16, 2021
in Hiburan
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

 Menggali kembali musik dari masa lalu kerap membawa kita pada pertemuan-pertemuan tak terduga dengan lagu. Itulah mengapa Yayasan Irama Nusantara dan MLDSPOT merilis sebuah album dengan tajuk Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1. Banyak sekali harta karun musik Indonesia dari masa lalu yang belum kita dengan hari ini, dan dengan semangat kolaborasi lagu-lagu itu dapat kembali memikat telinga lewat aransemen ulang para musisi yang relevan hari ini.

Adalah Andien, Aya Anjani, Dhira Bongs, Kurosuke, Vira Talisa, Mondo Gascaro, dan Adoria, yang mendapat kesempatan untuk mengolah kembali lagu-lagu dari masa lalu.

“Lagu Baru Dari Masa Lalu Volume 1” merupakan upaya nyata dari MLDSPOT dan Irama Nusantara guna melestarikan dan mempopulerkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah berjaya di Indonesia. Diharapkan, melalui peluncuran mini album ini dapat menjadi momentum untuk memberi apresiasi terhadap pencipta musik lawas, memperkuat ekosistem, memperkaya khazanah
musik yang ada di Tanah Air serta menginspirasi para pecinta musik di Indonesia.\”

“Kami sangat bangga bisa ambil bagian dalam upaya melestarikan serta mempopulerkan
kembali karya-karya musisi legendaris Indonesia. Hal ini bisa menjadi pesan bagi generasi
yang lebih muda bahwa Indonesia memiliki warisan musik yang sangat banyak dan juga dapat
menjadi referensi untuk menciptakan karya berkualitas di masa mendatang. Ke depannya,
kami juga berharap dapat bekerjasama dengan berbagai pihak demi turut menginspirasi
dunia musik Indonesia,” ujar Goardan Saragih, perwakilan dari MLDSPOT.

Yayasan Irama Nusantara merupakan sebuah gerakan kolektif pengarsipan musik Indonesia. Lewat proyek ini, Irama Nusantara melakukan kurasi dari ribuan katalog musik yang telah mereka arsipkan, dan memilih sederet lagu yang sekiranya relevan untuk kembali diterjemahkan oleh para musisi Indonesia hari ini.

“Kami membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan visi
dalam hal mengolah arsip digital musik populer yang kami miliki. Bersama MLDSPOT
tercetuslah ide membuat rilisan dalam bentuk mini album yang nantinya bisa menjadi upaya
berkesinambungan dalam melestarikan musik-musik Indonesia yang berasal dari masa lalu.
Rilisan ini akan memberikan dampak nyata, bukan hanya terhadap operasional Irama

Secara garis besar, album ini bertema Indonesian City Pop, sebuah genre yang mulai populer pada akhir era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan mengedepankan aransemen yang \”terdengar santai\” di telinga.

Beberapa lagu yang masuk ke dalam album ini antara lain \”Walau Dalam Mimpi\”, ciptaan David Mesakh yang pernah dipopulerkan Ermy Kulit. \”Senja dan Kahlua\” yang dulu dirilis oleh grup musik Transs, \”Terbanglah Lepas\” karya Yockie Suryoprayogo, \”Dunia yang Ternoda\” karya Jimmie Manopo, sampai \”Kisah Insani\” yang populer dibawakan Chrisye dan Vina Panduwinata.

Proses mastering album ini dikerjakan di Abbey Road Studios, London, oleh Frank Arkwright. Frank memiliki diskografi yang luar biasa sebagai teknisi suara, antara lain terlibat dalam proses penggarapan album Oasis, Coldplay, Joy Division, Primal Scream, sampai Morrissey.

Visual album ini dikerjakan oleh (Lab) Rana, laboratorium fotografi analog yang didirikan oleh Fadli Aat, yang dikenal juga sebagai bagian dari Diskoria. Selain Aat, terdapat empat fotografer lainnya yaitu Syahril Zulkarnain, Sava Arum, Yassereno Omar H, dan Arief Wahyudi, yang menginterpretasikan ulang setiap lagu dalam album ini melalui karya fotografi analog.

Dilansir dari : medcom.id
ADVERTISEMENT

 Menggali kembali musik dari masa lalu kerap membawa kita pada pertemuan-pertemuan tak terduga dengan lagu. Itulah mengapa Yayasan Irama Nusantara dan MLDSPOT merilis sebuah album dengan tajuk Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1. Banyak sekali harta karun musik Indonesia dari masa lalu yang belum kita dengan hari ini, dan dengan semangat kolaborasi lagu-lagu itu dapat kembali memikat telinga lewat aransemen ulang para musisi yang relevan hari ini.

Adalah Andien, Aya Anjani, Dhira Bongs, Kurosuke, Vira Talisa, Mondo Gascaro, dan Adoria, yang mendapat kesempatan untuk mengolah kembali lagu-lagu dari masa lalu.

“Lagu Baru Dari Masa Lalu Volume 1” merupakan upaya nyata dari MLDSPOT dan Irama Nusantara guna melestarikan dan mempopulerkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah berjaya di Indonesia. Diharapkan, melalui peluncuran mini album ini dapat menjadi momentum untuk memberi apresiasi terhadap pencipta musik lawas, memperkuat ekosistem, memperkaya khazanah
musik yang ada di Tanah Air serta menginspirasi para pecinta musik di Indonesia.\”

“Kami sangat bangga bisa ambil bagian dalam upaya melestarikan serta mempopulerkan
kembali karya-karya musisi legendaris Indonesia. Hal ini bisa menjadi pesan bagi generasi
yang lebih muda bahwa Indonesia memiliki warisan musik yang sangat banyak dan juga dapat
menjadi referensi untuk menciptakan karya berkualitas di masa mendatang. Ke depannya,
kami juga berharap dapat bekerjasama dengan berbagai pihak demi turut menginspirasi
dunia musik Indonesia,” ujar Goardan Saragih, perwakilan dari MLDSPOT.

Yayasan Irama Nusantara merupakan sebuah gerakan kolektif pengarsipan musik Indonesia. Lewat proyek ini, Irama Nusantara melakukan kurasi dari ribuan katalog musik yang telah mereka arsipkan, dan memilih sederet lagu yang sekiranya relevan untuk kembali diterjemahkan oleh para musisi Indonesia hari ini.

“Kami membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan visi
dalam hal mengolah arsip digital musik populer yang kami miliki. Bersama MLDSPOT
tercetuslah ide membuat rilisan dalam bentuk mini album yang nantinya bisa menjadi upaya
berkesinambungan dalam melestarikan musik-musik Indonesia yang berasal dari masa lalu.
Rilisan ini akan memberikan dampak nyata, bukan hanya terhadap operasional Irama

Secara garis besar, album ini bertema Indonesian City Pop, sebuah genre yang mulai populer pada akhir era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan mengedepankan aransemen yang \”terdengar santai\” di telinga.

Beberapa lagu yang masuk ke dalam album ini antara lain \”Walau Dalam Mimpi\”, ciptaan David Mesakh yang pernah dipopulerkan Ermy Kulit. \”Senja dan Kahlua\” yang dulu dirilis oleh grup musik Transs, \”Terbanglah Lepas\” karya Yockie Suryoprayogo, \”Dunia yang Ternoda\” karya Jimmie Manopo, sampai \”Kisah Insani\” yang populer dibawakan Chrisye dan Vina Panduwinata.

Proses mastering album ini dikerjakan di Abbey Road Studios, London, oleh Frank Arkwright. Frank memiliki diskografi yang luar biasa sebagai teknisi suara, antara lain terlibat dalam proses penggarapan album Oasis, Coldplay, Joy Division, Primal Scream, sampai Morrissey.

Visual album ini dikerjakan oleh (Lab) Rana, laboratorium fotografi analog yang didirikan oleh Fadli Aat, yang dikenal juga sebagai bagian dari Diskoria. Selain Aat, terdapat empat fotografer lainnya yaitu Syahril Zulkarnain, Sava Arum, Yassereno Omar H, dan Arief Wahyudi, yang menginterpretasikan ulang setiap lagu dalam album ini melalui karya fotografi analog.

Dilansir dari : medcom.id

 Menggali kembali musik dari masa lalu kerap membawa kita pada pertemuan-pertemuan tak terduga dengan lagu. Itulah mengapa Yayasan Irama Nusantara dan MLDSPOT merilis sebuah album dengan tajuk Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1. Banyak sekali harta karun musik Indonesia dari masa lalu yang belum kita dengan hari ini, dan dengan semangat kolaborasi lagu-lagu itu dapat kembali memikat telinga lewat aransemen ulang para musisi yang relevan hari ini.

Adalah Andien, Aya Anjani, Dhira Bongs, Kurosuke, Vira Talisa, Mondo Gascaro, dan Adoria, yang mendapat kesempatan untuk mengolah kembali lagu-lagu dari masa lalu.

“Lagu Baru Dari Masa Lalu Volume 1” merupakan upaya nyata dari MLDSPOT dan Irama Nusantara guna melestarikan dan mempopulerkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah berjaya di Indonesia. Diharapkan, melalui peluncuran mini album ini dapat menjadi momentum untuk memberi apresiasi terhadap pencipta musik lawas, memperkuat ekosistem, memperkaya khazanah
musik yang ada di Tanah Air serta menginspirasi para pecinta musik di Indonesia.\”

“Kami sangat bangga bisa ambil bagian dalam upaya melestarikan serta mempopulerkan
kembali karya-karya musisi legendaris Indonesia. Hal ini bisa menjadi pesan bagi generasi
yang lebih muda bahwa Indonesia memiliki warisan musik yang sangat banyak dan juga dapat
menjadi referensi untuk menciptakan karya berkualitas di masa mendatang. Ke depannya,
kami juga berharap dapat bekerjasama dengan berbagai pihak demi turut menginspirasi
dunia musik Indonesia,” ujar Goardan Saragih, perwakilan dari MLDSPOT.

Yayasan Irama Nusantara merupakan sebuah gerakan kolektif pengarsipan musik Indonesia. Lewat proyek ini, Irama Nusantara melakukan kurasi dari ribuan katalog musik yang telah mereka arsipkan, dan memilih sederet lagu yang sekiranya relevan untuk kembali diterjemahkan oleh para musisi Indonesia hari ini.

“Kami membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan visi
dalam hal mengolah arsip digital musik populer yang kami miliki. Bersama MLDSPOT
tercetuslah ide membuat rilisan dalam bentuk mini album yang nantinya bisa menjadi upaya
berkesinambungan dalam melestarikan musik-musik Indonesia yang berasal dari masa lalu.
Rilisan ini akan memberikan dampak nyata, bukan hanya terhadap operasional Irama

Secara garis besar, album ini bertema Indonesian City Pop, sebuah genre yang mulai populer pada akhir era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan mengedepankan aransemen yang \”terdengar santai\” di telinga.

Beberapa lagu yang masuk ke dalam album ini antara lain \”Walau Dalam Mimpi\”, ciptaan David Mesakh yang pernah dipopulerkan Ermy Kulit. \”Senja dan Kahlua\” yang dulu dirilis oleh grup musik Transs, \”Terbanglah Lepas\” karya Yockie Suryoprayogo, \”Dunia yang Ternoda\” karya Jimmie Manopo, sampai \”Kisah Insani\” yang populer dibawakan Chrisye dan Vina Panduwinata.

Proses mastering album ini dikerjakan di Abbey Road Studios, London, oleh Frank Arkwright. Frank memiliki diskografi yang luar biasa sebagai teknisi suara, antara lain terlibat dalam proses penggarapan album Oasis, Coldplay, Joy Division, Primal Scream, sampai Morrissey.

Visual album ini dikerjakan oleh (Lab) Rana, laboratorium fotografi analog yang didirikan oleh Fadli Aat, yang dikenal juga sebagai bagian dari Diskoria. Selain Aat, terdapat empat fotografer lainnya yaitu Syahril Zulkarnain, Sava Arum, Yassereno Omar H, dan Arief Wahyudi, yang menginterpretasikan ulang setiap lagu dalam album ini melalui karya fotografi analog.

Dilansir dari : medcom.id
ADVERTISEMENT

 Menggali kembali musik dari masa lalu kerap membawa kita pada pertemuan-pertemuan tak terduga dengan lagu. Itulah mengapa Yayasan Irama Nusantara dan MLDSPOT merilis sebuah album dengan tajuk Lagu Baru dari Masa Lalu – Volume 1. Banyak sekali harta karun musik Indonesia dari masa lalu yang belum kita dengan hari ini, dan dengan semangat kolaborasi lagu-lagu itu dapat kembali memikat telinga lewat aransemen ulang para musisi yang relevan hari ini.

Adalah Andien, Aya Anjani, Dhira Bongs, Kurosuke, Vira Talisa, Mondo Gascaro, dan Adoria, yang mendapat kesempatan untuk mengolah kembali lagu-lagu dari masa lalu.

“Lagu Baru Dari Masa Lalu Volume 1” merupakan upaya nyata dari MLDSPOT dan Irama Nusantara guna melestarikan dan mempopulerkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah berjaya di Indonesia. Diharapkan, melalui peluncuran mini album ini dapat menjadi momentum untuk memberi apresiasi terhadap pencipta musik lawas, memperkuat ekosistem, memperkaya khazanah
musik yang ada di Tanah Air serta menginspirasi para pecinta musik di Indonesia.\”

“Kami sangat bangga bisa ambil bagian dalam upaya melestarikan serta mempopulerkan
kembali karya-karya musisi legendaris Indonesia. Hal ini bisa menjadi pesan bagi generasi
yang lebih muda bahwa Indonesia memiliki warisan musik yang sangat banyak dan juga dapat
menjadi referensi untuk menciptakan karya berkualitas di masa mendatang. Ke depannya,
kami juga berharap dapat bekerjasama dengan berbagai pihak demi turut menginspirasi
dunia musik Indonesia,” ujar Goardan Saragih, perwakilan dari MLDSPOT.

Yayasan Irama Nusantara merupakan sebuah gerakan kolektif pengarsipan musik Indonesia. Lewat proyek ini, Irama Nusantara melakukan kurasi dari ribuan katalog musik yang telah mereka arsipkan, dan memilih sederet lagu yang sekiranya relevan untuk kembali diterjemahkan oleh para musisi Indonesia hari ini.

“Kami membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan visi
dalam hal mengolah arsip digital musik populer yang kami miliki. Bersama MLDSPOT
tercetuslah ide membuat rilisan dalam bentuk mini album yang nantinya bisa menjadi upaya
berkesinambungan dalam melestarikan musik-musik Indonesia yang berasal dari masa lalu.
Rilisan ini akan memberikan dampak nyata, bukan hanya terhadap operasional Irama

Secara garis besar, album ini bertema Indonesian City Pop, sebuah genre yang mulai populer pada akhir era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan mengedepankan aransemen yang \”terdengar santai\” di telinga.

Beberapa lagu yang masuk ke dalam album ini antara lain \”Walau Dalam Mimpi\”, ciptaan David Mesakh yang pernah dipopulerkan Ermy Kulit. \”Senja dan Kahlua\” yang dulu dirilis oleh grup musik Transs, \”Terbanglah Lepas\” karya Yockie Suryoprayogo, \”Dunia yang Ternoda\” karya Jimmie Manopo, sampai \”Kisah Insani\” yang populer dibawakan Chrisye dan Vina Panduwinata.

Proses mastering album ini dikerjakan di Abbey Road Studios, London, oleh Frank Arkwright. Frank memiliki diskografi yang luar biasa sebagai teknisi suara, antara lain terlibat dalam proses penggarapan album Oasis, Coldplay, Joy Division, Primal Scream, sampai Morrissey.

Visual album ini dikerjakan oleh (Lab) Rana, laboratorium fotografi analog yang didirikan oleh Fadli Aat, yang dikenal juga sebagai bagian dari Diskoria. Selain Aat, terdapat empat fotografer lainnya yaitu Syahril Zulkarnain, Sava Arum, Yassereno Omar H, dan Arief Wahyudi, yang menginterpretasikan ulang setiap lagu dalam album ini melalui karya fotografi analog.

Dilansir dari : medcom.id
Tags: AndienAya Anjanidan AdoriaDhira BongsindonesiaKurosukeMLDSPOTMondo Gascaropecinta musikVira TalisaYayasan Irama Nusantara
Previous Post

Ifan Seventeen Diberitakan Meninggal, Istri Menangis

Next Post

Main di The Devil Wears Prada Bikin Meryl Streep Kapok Beracting

Next Post

Main di The Devil Wears Prada Bikin Meryl Streep Kapok Beracting

5 Hal Baru dari Hospital Playlist 2

Anji Ditangkap karena Narkoba, Nikita Mirzani: Jangan Di-bully

Box Office Korea Pekan Ini, Cruella Bertahan di Posisi Pertama

Shin Hyun Been dan Ahn Eun Jin Dipastikan Main di Hospital Playlist 2

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • NEWS
  • Privacy Policy
  • Profil
  • Radio SAI
  • rss
  • Stream

© 2023 - SAI100FM.ID

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI

© 2023 - SAI100FM.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In