Thursday, February 5, 2026
  • Login
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
No Result
View All Result
Home Film

Penyebab Belum Banyak Karya Jurnalistik Indonesia Diangkat ke Film

Nana HasanbyNana Hasan
February 21, 2021
in Film
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Jakarta: Dunia film dan jurnalisme begitu dekat. Ada banyak film-film Hollywood yang dibuat atau terinspirasi dari karya jurnalistik. Begitu juga di Indonesia juga meski jumlahnya belum banyak.

\”Film dan jurnalisme punya sesuatu yang banyak tumpang tindih, dalam arti bagus. Hasil kerja jurnalistik bisa menjadi inspirasi,\” kata Tito Imanda dari Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein) dalam webinar \”Karya Jurnalistik yang Menginspirasi Filmmaker\” yang digelar oleh Perum Produksi Film Negara (PFN).

Di luar negeri, kata Tito, film-film yang diangkat dari sejumlah karya jurnalistik selalu menarik. Selain berdasarkan kisah nyata, film yang terinspirasi dari karya seorang jurnalis biasanya peristiwanya punya daya tarik tersendiri.

ADVERTISEMENT

Ada juga film yang membahas kisah di balik sebuah berita yang menggemparkan. Sebut saja seperti The Post yang mengangkat polemik di balik meja redaksi Washington Post dan All The President\’s Men tentang dua reporter Washington Post yang menyelidiki skandal Watergate.

Sementara untuk di Indonesia, Tito mencontohkan film Remang-Remang Jakarta karya sutradara Lukmantoro DS dan Jakarta Undercover yang diangkat dari penelusuran Moamar Emka ke dunia esek-esek Tanah Air.

\”Film lainnya yang mengangkat kisah nyata dari liputan wartawan masih banyak fokus kepada investigasi kehidupan esek-esek ibu kota,\” ucap Tito.

Tito lalu mencontohkan kasus-kasus korupsi besar di Indonesia. Lika-liku investigasi wartawan membongkar kasus korupsi hingga ancaman terhadap mereka sebenarnya cukup menarik untuk diangkat ke sebuah film.

\”Banyak cerita dari liputan. Ada wartawan yang diancam karena angkat kasus korupsi, hidupnya sudah kaya di film suspense. Tapi film tapi suspense kan memang belum banyak dibuat di Indonesia,\” ucap Tito.

Banyak faktor yang menyebabkan film-film yang diangkat dari karya jurnalistik belum banyak di Indonesia. Salah satunya topik yang diangkat bisa jadi terlalu berat sehingga tidak menguntungkan secara bisnis.

\”Banyak yang bisa diangkat dari karya jurnalistik. Banyak sisi dramatis dalam hidup jurnalis. Problemnya bisa jadi, tidak ada karya yang bisa diangkat. Kedua, tidak ada informasi tentang karya wartawan yang bisa diangkat. Ketiga, bisa jadi tidak tertarik. Karena meski ada karya jurnalis yang bisa jadi inspirasi pasti sudah dibuat,\” kata Ketua Forum Pewarta Film, Teguh Imam Suryadi.

Tito mengamini pernyataan Imam. Menurut Tito, pasar film di Indonesia belum begitu besar. Jumlah bioskop Indonesia yang masih kalah jauh dibandingkan industri film Hollywood misalnya membuat seorang produser harus selektif mengangkat cerita yang akan difilmkan. Sisi bisnis tentu harus menjadi pertimbangan.

\”Sulit membandingkan film Indonesia dengan Hollywood. Mereka punya pasar seluruh dunia. Produser juga pilih-pilih mau angkat karya jurnalistik yang mana. Akhirnya investor pilih cerita yang ringan, yang dekat dengan anak-anak muda. Saya tidak menyalahkan orang yang tidak mau menaruh biaya untuk film-film seperti itu (bertema berat). Wajar mereka (produser dan investor) takut (rugi),\” jelas Tito.

Kaitan dunia film dan jurnalisme semakin erat ketika banyak juga profesi wartawan yang diangkat menjadi karakter sebuah film. Banyak film fiksi yang menceritakan profesi jurnalis. Dalam penelusuran Tito di situs filmindonesia.or.id, ada 55 film menggunakan kata \”wartawan\” dan tiga film menggunakan kata \”jurnalis\”.

Tito menyebut, profesi jurnalis juga begitu dekat dengan dunia film. Banyak juga sineas yang pernah menjadi jurnalis sebelum terjun ke dunia film. Contoh paling populer saat ini tentu sutradara Joko Anwar. Usmar Ismail yang merupakan Bapak Perfilman Indonesia disebut Tito pernah bekerja sebagai wartawan.

Selain bertugas memberitakan sebuah berita tentang sebuah film, seorang jurnalis juga bisa berperan langsung menghadirkan sebuah karya di dunia film. Sebagai profesi yang dekat dengan kepenulisan, seorang jurnalis bisa menempuh langkah sebagai penulis naskah. Langkah ini pernah dilakukan Joko Anwar ketika mengawali karier dengan menulis naskah film Arisan.

Karena itu, Tito mengusulkan jurnalis bisa mengikuti pelatihan menulis naskah film. Menulis berita dengan cara menulis skenario tentu berbeda sehingga harus secara rutin dilatih.

\”Kita saat ini kekurangan penulis film. Yang berpotensi salah satunya wartawan. Wartawan bisa belajar menulis skenario film, bukan hanya formatnya, tapi juga bagaimana art-nya, kapan ketegangan meningkat, konflik mulai muncul sampai selesai. Saya sangat menyemangati ketika ada pelatihan menulis, wartawan yang berminat bisa jadi prioritas karena punya model besar untuk jadi penulis naskah yang hebat,\” jelas Tito.

Dilansir dari: medcom.id

Tags: filmJurnalistikproduksi film
Previous Post

Agensi Membantah Ravi VIXX Masuk Wajib Militer Juni 2021

Next Post

Arsy Widianto Terluka oleh Tiara Andini di Single Ketiga

Next Post

Arsy Widianto Terluka oleh Tiara Andini di Single Ketiga

Kaspersky Imbau Waspada Soal Aplikasi Tiruan Clubhouse

Conan Gray Rilis Single Baru Berjudul “Overdrive”

Ajak Iann Dior dan Upsahl, Mike Shinoda Rilis Single “Happy Endings”

Joe Taslim Ucapkan Terima Kasih, Setelah Aksinya di “Mortal Kombat” Banjir Pujian

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • NEWS
  • Privacy Policy
  • Profil
  • Radio SAI
  • rss
  • Stream

© 2023 - SAI100FM.ID

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • SOSOK
  • TEKNOLOGI
  • NEWS
  • PROFIL
  • HUBUNGI KAMI

© 2023 - SAI100FM.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
088e9594 340a 41d9 86a4 20116b283cff
F90a4def B1ed 4b6e 9831 E83f6465a674
D23bec60 F65f 440d A9c3 F133964935df
C12ee62b 1ee6 48ff Bfab D126211e302e
46f35e2d 0b7a 4fbb 8a88 B5b248b88807
52eba4ab Fe41 4db0 A026 2757b23d8a84
46f8a7ed A3c8 4687 Bc78 05c741000f99
Ba129abc C39d 42d6 A0b7 E411f02e2fb5
A8f77387 1541 4203 8666 F04ea3c9b5f5
913be1e4 F621 4de6 Ae46 0c86a83c3850
64258c2d Cb1e 48ce A3c8 F57cd4341598
73c24044 9c3e 409f 8e7f 156e96e5abd9
Fb709755 6199 4aee 8a25 E8593bef57dd
253da53a 579e 4989 8ba5 1a27d1351862
Bbbef428 E3e0 4b96 9df5 155efb4a1bb8
590c0e77 1109 41d4 81f1 E2122485325e
596070e2 Fd54 4451 9fb8 E0c95d4951e6
35e1410e 28f7 4605 8725 D15ef0d487f7
251006da 7689 49cd Bff9 21b2b70fd01e
70ed91c1 5633 4385 Ac00 C45e4f557e2c
8404b068 E423 4844 959b 6931649486a2
6f93e277 519d 47b6 9674 003f32395dbb
1c94eac6 97e9 4608 Bd24 5bd8d33eab4c
02fc4462 Ae79 441a 8291 0b8e431e2bed
E7b9a0e5 3043 4827 98ff 1103c156c556
73d70507 4108 40b0 Ac8f 3bb07d7e7669
789da51d Bb95 4718 9f28 8138e8670c84
45d24fc3 C91a 41fb 8130 72ae91e0fdee
Ccd87ef0 D9b3 453b Aa51 C7560fd54f32
7b69cd4e 416a 4fc8 B3ea 7baaa10e7402
75c13c81 2b59 42db Af58 72542dbb8dfa
12bb2593 7414 4b84 Bcc8 4cd990ffac73
59d974e2 516f 49d8 Be17 3d5a4efaffae
B78a7138 846d 4a10 85ac 886d440621db
D347ada8 1b43 4c89 8f24 Fbac2254cb5b
Eb841bb2 1b28 4cbd 8c9c 297f32981325
F9be343b 854d 4f41 A06c D2bac0dac976
4c83c84e Fe9a 420d B55d 7134a436e7ef
Dd31f3ff Ce13 4692 A8f7 1167c46186e8
3d5ffbba 1440 497f 9486 C52aadd6808a
0494dc28 Edb2 4fab 8232 7f6dbe84a867
0b79628d 719b 4039 B6cb 0f8154785aad
4ba5fcee 1ba4 480b Ab3c 6224ee25e633
1c514745 4453 4bd5 A6f4 Bd236cee094a
B46c34a3 7b02 4f66 Bd68 6700ae62ba28
3d51247c D923 48c7 9cf9 Fd3c7fcb4c07
E1cf4f1d 5255 428b 9f49 3cb8854384bb
A1b21869 B2e2 4513 9270 634cf50d1847
Bbb36e26 1b04 445b 9195 4426b9a8f2fb
518901ef 36f3 475c 8661 2a3e32dbf989