Thursday, August 6, 2026
  • Login
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Radio SAI 100FM
No Result
View All Result
Home Hiburan

Cara YouTube Mengolah Konten Musik, Hak Cipta, dan Monetisasi

adminsaibyadminsai
October 14, 2020
in Hiburan
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Jakarta: Perkara apresiasi dan hak cipta karya masih berlanjut dalam beberapa forum diskusi. Satu di antaranya Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengisi diskusi publik rutin pekan ini dengan tema Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital.

Cover lagu kini diperbincangkan hak moral dan ekonominya terhadap pencipta lagu. Sebab, tatkala individu atau kelompok yang meng-cover lagu lebih populer dengan karya orang lain, pencipta karya tak mendapatkan hak moral dan ekonomi.

YouTube sebagai platform berbagi untuk publik kini banyak melahirkan musisi, seniman, atau kerap disebut content creator. Tak sedikit platform YouTube menjadi mata pencaharian utama karena pendapatan dengan pencapaian tertentu terbilang menjanjikan.

Perihal cover lagu, Muara Sipahutar selaku Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia memaparkan cara kerja YouTube mengolah konten video dan lagu. Muara mengatatakan, setidaknya 2 miliar user masuk setiap bulan termasuk musisi amatir, profesional, untuk mempromosikan musik atau brand.

Tanpa pandang bulu, YouTube sebagai leading video platform kini mewadahi kreativitas kreator. Terkhusus di bidang musik, terdapat dua roda besar yang memberikan pendapatan terhadap pihak-pihak terkait di bidang musik Indonesia, seperti iklan.

Cara YouTube Mengolah Konten Musik, Hak Cipta, dan Monetisasi
(Muara Sipahutar, Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia dalam diskusi publik Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital, Selasa, 13 Oktober 2020)

“Kalau videonya ditampilin iklan itu pasti ada duitnya dan itu revenue antara YouTube dan yang punya copyright, yang punya audio, radio, atau komposisi,” terang Muara, Selasa, 13 Oktober 2020.

Pelanggan yang melakukan subscription atau berlangganan, dalam hal ini YouTube Premium atau Music dikenakan biaya bulanan. Biaya tersebut dibagikan kepada pihak-pihak terkait produksi konten.

Peran YouTube mewadahi konten musik begitu besar. Sehingga dibutuhkan kontrol perihal hak cipta. Muara menyebut, setidaknya dalam 1 menit ada 400 jam konten yang diunggah untuk seluruh dunia di YouTube.

Untuk mendeteksi kepemilikan karya, YouTube bekerja sama dengan mitra lokal dan internasional untuk memetakan kepemilikan karya. Di Indonesia, YouTube bekerja sama dengan label.

“Contohnya kita bekerja sama dengan label untuk menentukan sound recording atau rekaman mana yang punya mereka. Kita kasih mereka tools, sistemnya, mereka masukkan semua recording, rekaman yang mereka punya 100 persen,” kata Muara.

Dalam sistem YouTube bakal terdeteksi berapa video yang menggunakan rekaman tersebut. Maka, penduplikat video itu diklaim sehingga revenue atau pendapatan dari video tersebut masuk ke label sebagai pemegang copyright.

Teknis tersebut dilihat dari sisi rekaman. Pada sisi pencipta, YouTube bermitra dengan publisher dan lembaga manajemen kolektif yang masing-masing memiliki peran mengatur copyright.

“Contohnya kalau misalnya LMK, lembaga manajemen kolektif kita bermitra dengan WAMI, Wahana Musik Indonesia, mereka memang in charge untuk mengoleksi performing rights ketika lagu itu tampil di muka umum,” kata Muara.

Publisher dalam hal ini bertanggung jawab mengatur mekanisme lagu ketika direproduksi dalam server atau tayang pada satu perangkat. Termasuk sinkronisasi lagu untuk konten visual.

Prosedur ini disebut sebagai langkah runut ketika kreator mengunggah konten di YouTube.

“Dengan adanya stakeholder-stakholder copyright ini, kita bisa istilahnya melakukan komersial dengan cara yang benar sesuai dengan peraturan-peraturan yang diakui asosiasi atau suatu negara tentang ada hak ciptanya,” kata Muara.

Pihak-pihak yang bermitra dengan YouTube menjadi detektor kepemilikan kontan pada YouTube. Muara menjelaskan, YouTube bekerja secara komersial melihat hak-hak yang dimiliki masing-masing pihak terkait.

“Kalau misalnya haknya belum dipenuhi, enggak mungkin kita akan melakukan bisnis komersial itu terus-terusan. Itu akan berbahaya dari sisi legalnya,” kata Muara.

ADVERTISEMENT

Jakarta: Perkara apresiasi dan hak cipta karya masih berlanjut dalam beberapa forum diskusi. Satu di antaranya Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengisi diskusi publik rutin pekan ini dengan tema Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital.

Cover lagu kini diperbincangkan hak moral dan ekonominya terhadap pencipta lagu. Sebab, tatkala individu atau kelompok yang meng-cover lagu lebih populer dengan karya orang lain, pencipta karya tak mendapatkan hak moral dan ekonomi.

YouTube sebagai platform berbagi untuk publik kini banyak melahirkan musisi, seniman, atau kerap disebut content creator. Tak sedikit platform YouTube menjadi mata pencaharian utama karena pendapatan dengan pencapaian tertentu terbilang menjanjikan.

Perihal cover lagu, Muara Sipahutar selaku Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia memaparkan cara kerja YouTube mengolah konten video dan lagu. Muara mengatatakan, setidaknya 2 miliar user masuk setiap bulan termasuk musisi amatir, profesional, untuk mempromosikan musik atau brand.

Tanpa pandang bulu, YouTube sebagai leading video platform kini mewadahi kreativitas kreator. Terkhusus di bidang musik, terdapat dua roda besar yang memberikan pendapatan terhadap pihak-pihak terkait di bidang musik Indonesia, seperti iklan.

Cara YouTube Mengolah Konten Musik, Hak Cipta, dan Monetisasi
(Muara Sipahutar, Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia dalam diskusi publik Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital, Selasa, 13 Oktober 2020)

“Kalau videonya ditampilin iklan itu pasti ada duitnya dan itu revenue antara YouTube dan yang punya copyright, yang punya audio, radio, atau komposisi,” terang Muara, Selasa, 13 Oktober 2020.

Pelanggan yang melakukan subscription atau berlangganan, dalam hal ini YouTube Premium atau Music dikenakan biaya bulanan. Biaya tersebut dibagikan kepada pihak-pihak terkait produksi konten.

Peran YouTube mewadahi konten musik begitu besar. Sehingga dibutuhkan kontrol perihal hak cipta. Muara menyebut, setidaknya dalam 1 menit ada 400 jam konten yang diunggah untuk seluruh dunia di YouTube.

Untuk mendeteksi kepemilikan karya, YouTube bekerja sama dengan mitra lokal dan internasional untuk memetakan kepemilikan karya. Di Indonesia, YouTube bekerja sama dengan label.

“Contohnya kita bekerja sama dengan label untuk menentukan sound recording atau rekaman mana yang punya mereka. Kita kasih mereka tools, sistemnya, mereka masukkan semua recording, rekaman yang mereka punya 100 persen,” kata Muara.

Dalam sistem YouTube bakal terdeteksi berapa video yang menggunakan rekaman tersebut. Maka, penduplikat video itu diklaim sehingga revenue atau pendapatan dari video tersebut masuk ke label sebagai pemegang copyright.

Teknis tersebut dilihat dari sisi rekaman. Pada sisi pencipta, YouTube bermitra dengan publisher dan lembaga manajemen kolektif yang masing-masing memiliki peran mengatur copyright.

“Contohnya kalau misalnya LMK, lembaga manajemen kolektif kita bermitra dengan WAMI, Wahana Musik Indonesia, mereka memang in charge untuk mengoleksi performing rights ketika lagu itu tampil di muka umum,” kata Muara.

Publisher dalam hal ini bertanggung jawab mengatur mekanisme lagu ketika direproduksi dalam server atau tayang pada satu perangkat. Termasuk sinkronisasi lagu untuk konten visual.

Prosedur ini disebut sebagai langkah runut ketika kreator mengunggah konten di YouTube.

“Dengan adanya stakeholder-stakholder copyright ini, kita bisa istilahnya melakukan komersial dengan cara yang benar sesuai dengan peraturan-peraturan yang diakui asosiasi atau suatu negara tentang ada hak ciptanya,” kata Muara.

Pihak-pihak yang bermitra dengan YouTube menjadi detektor kepemilikan kontan pada YouTube. Muara menjelaskan, YouTube bekerja secara komersial melihat hak-hak yang dimiliki masing-masing pihak terkait.

“Kalau misalnya haknya belum dipenuhi, enggak mungkin kita akan melakukan bisnis komersial itu terus-terusan. Itu akan berbahaya dari sisi legalnya,” kata Muara.

Jakarta: Perkara apresiasi dan hak cipta karya masih berlanjut dalam beberapa forum diskusi. Satu di antaranya Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengisi diskusi publik rutin pekan ini dengan tema Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital.

Cover lagu kini diperbincangkan hak moral dan ekonominya terhadap pencipta lagu. Sebab, tatkala individu atau kelompok yang meng-cover lagu lebih populer dengan karya orang lain, pencipta karya tak mendapatkan hak moral dan ekonomi.

YouTube sebagai platform berbagi untuk publik kini banyak melahirkan musisi, seniman, atau kerap disebut content creator. Tak sedikit platform YouTube menjadi mata pencaharian utama karena pendapatan dengan pencapaian tertentu terbilang menjanjikan.

Perihal cover lagu, Muara Sipahutar selaku Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia memaparkan cara kerja YouTube mengolah konten video dan lagu. Muara mengatatakan, setidaknya 2 miliar user masuk setiap bulan termasuk musisi amatir, profesional, untuk mempromosikan musik atau brand.

Tanpa pandang bulu, YouTube sebagai leading video platform kini mewadahi kreativitas kreator. Terkhusus di bidang musik, terdapat dua roda besar yang memberikan pendapatan terhadap pihak-pihak terkait di bidang musik Indonesia, seperti iklan.

Cara YouTube Mengolah Konten Musik, Hak Cipta, dan Monetisasi
(Muara Sipahutar, Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia dalam diskusi publik Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital, Selasa, 13 Oktober 2020)

“Kalau videonya ditampilin iklan itu pasti ada duitnya dan itu revenue antara YouTube dan yang punya copyright, yang punya audio, radio, atau komposisi,” terang Muara, Selasa, 13 Oktober 2020.

Pelanggan yang melakukan subscription atau berlangganan, dalam hal ini YouTube Premium atau Music dikenakan biaya bulanan. Biaya tersebut dibagikan kepada pihak-pihak terkait produksi konten.

Peran YouTube mewadahi konten musik begitu besar. Sehingga dibutuhkan kontrol perihal hak cipta. Muara menyebut, setidaknya dalam 1 menit ada 400 jam konten yang diunggah untuk seluruh dunia di YouTube.

Untuk mendeteksi kepemilikan karya, YouTube bekerja sama dengan mitra lokal dan internasional untuk memetakan kepemilikan karya. Di Indonesia, YouTube bekerja sama dengan label.

“Contohnya kita bekerja sama dengan label untuk menentukan sound recording atau rekaman mana yang punya mereka. Kita kasih mereka tools, sistemnya, mereka masukkan semua recording, rekaman yang mereka punya 100 persen,” kata Muara.

Dalam sistem YouTube bakal terdeteksi berapa video yang menggunakan rekaman tersebut. Maka, penduplikat video itu diklaim sehingga revenue atau pendapatan dari video tersebut masuk ke label sebagai pemegang copyright.

Teknis tersebut dilihat dari sisi rekaman. Pada sisi pencipta, YouTube bermitra dengan publisher dan lembaga manajemen kolektif yang masing-masing memiliki peran mengatur copyright.

“Contohnya kalau misalnya LMK, lembaga manajemen kolektif kita bermitra dengan WAMI, Wahana Musik Indonesia, mereka memang in charge untuk mengoleksi performing rights ketika lagu itu tampil di muka umum,” kata Muara.

Publisher dalam hal ini bertanggung jawab mengatur mekanisme lagu ketika direproduksi dalam server atau tayang pada satu perangkat. Termasuk sinkronisasi lagu untuk konten visual.

Prosedur ini disebut sebagai langkah runut ketika kreator mengunggah konten di YouTube.

“Dengan adanya stakeholder-stakholder copyright ini, kita bisa istilahnya melakukan komersial dengan cara yang benar sesuai dengan peraturan-peraturan yang diakui asosiasi atau suatu negara tentang ada hak ciptanya,” kata Muara.

Pihak-pihak yang bermitra dengan YouTube menjadi detektor kepemilikan kontan pada YouTube. Muara menjelaskan, YouTube bekerja secara komersial melihat hak-hak yang dimiliki masing-masing pihak terkait.

“Kalau misalnya haknya belum dipenuhi, enggak mungkin kita akan melakukan bisnis komersial itu terus-terusan. Itu akan berbahaya dari sisi legalnya,” kata Muara.

ADVERTISEMENT

Jakarta: Perkara apresiasi dan hak cipta karya masih berlanjut dalam beberapa forum diskusi. Satu di antaranya Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengisi diskusi publik rutin pekan ini dengan tema Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital.

Cover lagu kini diperbincangkan hak moral dan ekonominya terhadap pencipta lagu. Sebab, tatkala individu atau kelompok yang meng-cover lagu lebih populer dengan karya orang lain, pencipta karya tak mendapatkan hak moral dan ekonomi.

YouTube sebagai platform berbagi untuk publik kini banyak melahirkan musisi, seniman, atau kerap disebut content creator. Tak sedikit platform YouTube menjadi mata pencaharian utama karena pendapatan dengan pencapaian tertentu terbilang menjanjikan.

Perihal cover lagu, Muara Sipahutar selaku Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia memaparkan cara kerja YouTube mengolah konten video dan lagu. Muara mengatatakan, setidaknya 2 miliar user masuk setiap bulan termasuk musisi amatir, profesional, untuk mempromosikan musik atau brand.

Tanpa pandang bulu, YouTube sebagai leading video platform kini mewadahi kreativitas kreator. Terkhusus di bidang musik, terdapat dua roda besar yang memberikan pendapatan terhadap pihak-pihak terkait di bidang musik Indonesia, seperti iklan.

Cara YouTube Mengolah Konten Musik, Hak Cipta, dan Monetisasi
(Muara Sipahutar, Music Content Partnerships Manager YouTube Indonesia dalam diskusi publik Menelisik Hak Cipta Musik di Era Digital, Selasa, 13 Oktober 2020)

“Kalau videonya ditampilin iklan itu pasti ada duitnya dan itu revenue antara YouTube dan yang punya copyright, yang punya audio, radio, atau komposisi,” terang Muara, Selasa, 13 Oktober 2020.

Pelanggan yang melakukan subscription atau berlangganan, dalam hal ini YouTube Premium atau Music dikenakan biaya bulanan. Biaya tersebut dibagikan kepada pihak-pihak terkait produksi konten.

Peran YouTube mewadahi konten musik begitu besar. Sehingga dibutuhkan kontrol perihal hak cipta. Muara menyebut, setidaknya dalam 1 menit ada 400 jam konten yang diunggah untuk seluruh dunia di YouTube.

Untuk mendeteksi kepemilikan karya, YouTube bekerja sama dengan mitra lokal dan internasional untuk memetakan kepemilikan karya. Di Indonesia, YouTube bekerja sama dengan label.

“Contohnya kita bekerja sama dengan label untuk menentukan sound recording atau rekaman mana yang punya mereka. Kita kasih mereka tools, sistemnya, mereka masukkan semua recording, rekaman yang mereka punya 100 persen,” kata Muara.

Dalam sistem YouTube bakal terdeteksi berapa video yang menggunakan rekaman tersebut. Maka, penduplikat video itu diklaim sehingga revenue atau pendapatan dari video tersebut masuk ke label sebagai pemegang copyright.

Teknis tersebut dilihat dari sisi rekaman. Pada sisi pencipta, YouTube bermitra dengan publisher dan lembaga manajemen kolektif yang masing-masing memiliki peran mengatur copyright.

“Contohnya kalau misalnya LMK, lembaga manajemen kolektif kita bermitra dengan WAMI, Wahana Musik Indonesia, mereka memang in charge untuk mengoleksi performing rights ketika lagu itu tampil di muka umum,” kata Muara.

Publisher dalam hal ini bertanggung jawab mengatur mekanisme lagu ketika direproduksi dalam server atau tayang pada satu perangkat. Termasuk sinkronisasi lagu untuk konten visual.

Prosedur ini disebut sebagai langkah runut ketika kreator mengunggah konten di YouTube.

“Dengan adanya stakeholder-stakholder copyright ini, kita bisa istilahnya melakukan komersial dengan cara yang benar sesuai dengan peraturan-peraturan yang diakui asosiasi atau suatu negara tentang ada hak ciptanya,” kata Muara.

Pihak-pihak yang bermitra dengan YouTube menjadi detektor kepemilikan kontan pada YouTube. Muara menjelaskan, YouTube bekerja secara komersial melihat hak-hak yang dimiliki masing-masing pihak terkait.

“Kalau misalnya haknya belum dipenuhi, enggak mungkin kita akan melakukan bisnis komersial itu terus-terusan. Itu akan berbahaya dari sisi legalnya,” kata Muara.

Tags: kontenkreatorYoutube
Previous Post

Perjalanan Karier Shawn Mendes Ditampilkan dalam Dokumenter In Wonder

Next Post

Jisoo Ungkap ‘Anggota Kelima’ Blackpink

Next Post

Jisoo Ungkap 'Anggota Kelima' Blackpink

Pernyataan Mengejutkan Park Seo Joon Jadi Cameo di Record of Youth

NonaRia akan Gelar Konser Tribute untuk Ismail Marzuki

YouTube jadi Ladang Pendapatan Utama Musisi Indonesia selama Pandemi Covid-19

Rahasia Sukses Blackpink

  • Beranda
  • Hubungi Kami
  • NEWS
  • Privacy Policy
  • Profil
  • Radio SAI
  • rss
  • Stream

© 2023 - SAI100FM.ID

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • HIBURAN
  • MUSIK
  • FILM
  • K-POP
  • GAYA HIDUP
  • TEKNOLOGI

© 2023 - SAI100FM.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
rolex day date 18k gold wrapped moissanite diamonds copies watches gm factory 36mm2965 rolex datejust gold replica1929 richard mille rm07 01 df9bad7c replica watches fake vacheron constantin overseas dual time 41 mm pink gold hublot replica 11 watch classic fusion full diamond moissanite grey dial3834 replica rolex datejust 41mm 126331 noob rg wrapped rg dial diamonds markers ss rg jubilee bracelet a32359601 omega seamaster silver dial replica3010 fake breitling replica watches chronomat b01 42 rolex datejust yellow gold arabic dial iced out 116300 replica3934 sky dweller 18k everose gold men s watch 336935 0001 replica omega speedmaster apollo 11 40th anniversary black dial ss bracelet manual winding7543 cartier replica watch santos whsa00318618 hublot big bang sang bleu 45mm automatic men s watch dc4656b0 rolex replica 11 watch day date rose gold white dial5078 patek philippe nautilus 7118 replica watch rose gold8833 yacht master 40 m126655 0002 29869114 hublot replica watch classic fusion 22897 replica omega speedmaster moonwatch nasa ss black dial leather strap manual winding4275 replica rolex yacht master 116622 jf white dial on ss bracelet sh31358305 rolex best replica watches day date7468 van cleef and arpels replica
replica fireplace
lv replica
creed aventus clone
beach walk perfume replica
omega speedmaster replica
bubble bath replica
hermes birkin bag replica
hermes bag replica
audemars piguet replica
margiela replica sneaker
replica perfumes
watches replica swiss
margiela replica shoes
watches replicas