SAI100FM.ID – Kata Sandi Aman Semakin Penting di Era Serangan Siber Berbasis AI
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan digital, penggunaan kata sandi aman menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Riset terbaru dari Kaspersky mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sekitar 68 persen kata sandi modern dapat diretas dalam waktu kurang dari satu hari. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan pola password yang mudah ditebak oleh pelaku kejahatan siber.
Analisis tersebut dilakukan terhadap sekitar 231 juta kata sandi unik yang bocor dalam berbagai insiden kebocoran data selama periode 2023 hingga 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar kata sandi yang digunakan saat ini belum mampu menghadapi teknologi peretasan modern yang semakin canggih, terutama yang didukung kecerdasan buatan (AI).
Perkembangan teknologi AI membuat proses pembobolan password menjadi jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu. Teknik yang dulunya membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan jam atau menit.
Mengapa Banyak Kata Sandi Mudah Diretas?
Salah satu penyebab utama lemahnya keamanan akun adalah kebiasaan pengguna yang membuat password dengan pola yang mudah diprediksi. Banyak orang menganggap bahwa menambahkan angka atau simbol sudah cukup untuk meningkatkan keamanan. Padahal, jika penempatannya mengikuti pola umum, password tetap mudah ditebak oleh sistem peretasan otomatis.
Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 53 persen kata sandi yang bocor memiliki angka di bagian akhir. Sementara itu, 17 persen password diawali dengan angka. Selain itu, sekitar 12 persen pengguna menggunakan kombinasi angka yang menyerupai tahun atau tanggal tertentu, seperti rentang tahun 1950 hingga 2030.
Penggunaan simbol juga ternyata belum tentu membuat password menjadi lebih kuat. Simbol seperti “@” menjadi karakter yang paling sering digunakan sehingga justru mudah diprediksi oleh algoritma peretas. Bahkan, sekitar 3 persen kata sandi masih menggunakan pola keyboard sederhana seperti “qwerty” atau urutan angka seperti “1234”.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut membuat password rentan terhadap serangan brute force, yaitu metode peretasan yang mencoba berbagai kombinasi karakter secara otomatis hingga menemukan password yang benar.
Tren Viral dan Kata Populer Ikut Memengaruhi Password
Fenomena menarik lainnya yang ditemukan dalam riset Kaspersky adalah pengaruh tren internet terhadap pembuatan kata sandi. Banyak pengguna menggunakan kata-kata yang sedang viral sebagai bagian dari password mereka.
Salah satu contoh yang ditemukan adalah kata “Skibidi” yang penggunaannya meningkat hingga 36 kali lipat dalam database password yang dianalisis. Hal ini menunjukkan bahwa tren media sosial dapat memengaruhi cara seseorang membuat kata sandi.
Selain kata viral, banyak pengguna juga memilih kata-kata bernuansa positif seperti “love”, “magic”, “friend”, dan “star”. Meski terlihat unik dan mudah diingat, penggunaan satu kata yang berasal dari kamus tetap dianggap lemah oleh para ahli keamanan siber.
Saat ini, algoritma peretasan modern mampu mengenali jutaan kata umum dalam berbagai bahasa. Bahkan jika kata tersebut dikombinasikan dengan angka atau simbol sederhana, peluang untuk diretas tetap tinggi.
Kata Sandi Aman Harus Mampu Menghadapi Peretasan Berkecepatan Tinggi
Kemajuan perangkat keras turut mempercepat proses pembobolan password. Dalam simulasi yang dilakukan menggunakan GPU RTX 5090 dan algoritma MD5, hasilnya menunjukkan kemampuan peretasan yang sangat cepat.
Sekitar 20 persen kata sandi berhasil dibobol dalam waktu kurang dari satu menit, termasuk beberapa password dengan panjang hingga 15 karakter. Lebih dari 60 persen password dapat diretas dalam waktu sekitar satu jam. Sementara itu, total 68,2 persen password berhasil dipecahkan dalam waktu kurang dari satu hari.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa pelaku kejahatan siber di dunia nyata tidak hanya menggunakan satu perangkat. Mereka dapat menyewa atau mengoperasikan ratusan GPU secara bersamaan untuk mempercepat proses peretasan. Artinya, waktu yang dibutuhkan untuk membobol password bisa jauh lebih singkat dibandingkan hasil simulasi tersebut.
Cara Membuat Kata Sandi Aman Menurut Pakar Keamanan Siber
Untuk mengurangi risiko pencurian akun dan kebocoran data pribadi, para ahli keamanan merekomendasikan beberapa langkah berikut:
1. Gunakan Password Minimal 16 Karakter
Semakin panjang password yang digunakan, semakin sulit pula untuk diretas. Kombinasikan huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol secara acak.
2. Hindari Kata yang Mudah Ditebak
Jangan menggunakan nama, tanggal lahir, kata populer, tren viral, atau kata yang terdapat dalam kamus.
3. Gunakan Passphrase
Passphrase merupakan gabungan beberapa kata yang tidak berhubungan dan dapat dimodifikasi dengan kesalahan ejaan yang disengaja. Metode ini lebih mudah diingat namun tetap sulit ditebak.
4. Manfaatkan Password Manager
Password manager membantu menghasilkan password unik dan kompleks untuk setiap akun. Selain itu, seluruh data disimpan menggunakan enkripsi yang lebih aman.
5. Aktifkan Otentikasi Dua Faktor (2FA)
Fitur 2FA memberikan lapisan perlindungan tambahan. Meskipun password berhasil diketahui orang lain, akun tetap membutuhkan verifikasi tambahan sebelum dapat diakses.
Kesimpulan
Ancaman keamanan digital terus berkembang seiring kemajuan teknologi AI dan perangkat komputasi modern. Temuan Kaspersky yang menyebutkan bahwa 68 persen kata sandi dapat diretas dalam waktu kurang dari satu hari menjadi peringatan penting bagi seluruh pengguna internet.
Mengandalkan password sederhana sudah tidak lagi cukup untuk melindungi akun digital. Oleh karena itu, penggunaan kata sandi yang kuat, password manager, serta otentikasi dua faktor menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan data pribadi dan mencegah risiko peretasan di masa depan.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip pembuatan kata sandi aman, pengguna dapat mengurangi peluang menjadi korban kejahatan siber yang semakin canggih dan terorganisir.





